Gerakan Toliet Higienis: Sekolah Kita Kenapa Tidak?

Sembilan siswi SMP N 11 Bandung mengubah toilet kotor di sekolahnya menjadi bersih, wangi, dan saya yakin lebih teratur, beradab, dan berbudaya. Modal mereka hanya proposal yang didukung oleh kepala sekolah dan sebuah lembaga swadaya masyarakat. Hasilnya, pengguna toilet di sekolah tersebut menjadi makin beradab dan berbudaya bersih. [1]

Wah hebat, saya terkagum-kagum tapi sedikit malu karena sebagai mantan pengurus OSIS ngga berbuat banyak buat sekolah, hehe.

Sebagai pelajar, mantan pengurus OSIS, dan manusia yang (mencoba) beradab, saya selalu risih dengan masalah kebersihan, terutama kebersihan di tempat umum. Salah satunya toilet, hususnya toilet sekolah.

Di sekolah saya SMAN 66 Jakarta ada 7 WC, 3 di lantai 1, 2 di lantai 2 dan 3. Kondisi WC keseluruhan cukup. Ruangan toilet cukup besar, ventilasinya lebar, pencahayaan terang pada siang hari. Di toilet laki-laki, ada 4 toilet berdiri dan 3 toilet jongkok. Ada tempat cuci tangan, tetapi lebih mirip tempat wudhu. Toilet berdiri ada beberapa yang rusak dan tidak dialiri air. Sedangkan untuk toilet jongkok, sudah cukup lengkap, ada gayung, ember, keran, dan sabun. Meski gayung suka ilang-ilangan. Keran cuci tangan tidak ada sabun, drainasenya sering mampet.

Sekarang saya sudah jarang melihat pengguna toilet yang tidak bertanggungjawab. Masih ada sih, kadang-kadang.

Nah sekarang ada masalah lagi nih, WC ke-7.

WC ke-7 ini terletak di lantai 1 di lingkungan mesjid tepatnya. Berada di antara tempat wudhu dan kantin. WC ini terbuka dan hanya dibatasi oleh tembok setinggi 5 meter dengan kantin, serta berbagi saluran draniase dengan kantin! Saya bilang yang merancang toilet disini gagal. Gimana tidak gagal, selain bisa diintip dari lantai 2 mesjid (hehe), WC ini dekat sekali dengan kantin, dan sangat mengganggu tempat berwudhu di mesjid. Bau pesing selalu saya temui pada saat jam sibuk solat. Lalu masalah dengan kantin adalah, bahwa saya ngga tau itu saluran drainase ngalir kemana. Yang bahaya itu kalo drainasenya ngga gerak sama sekali, atau malah mengarah ke kantin! Singkatnya, kita tidak mau kan penyakit mewabah disekolah kita? Liat saja kabar tentang penyakit Hepatitis A di Depok lalu.

Baaalik lagi..

Kita punya OSIS. Melalui kaki tangan OSIS, tentunya kita sebagai pelajar juga dapat meningkatkan kebersihan dan memperbaik fasilitas (WC) agar sekolah kita tidak “Wangi di Depan, Jorok di Belakang”[2], dengan cara pelajar (bukan tukang atau caraka) tentunya. Misalnya, OSIS bisa menanamkan budaya bersih bagi pelajar di lingkungan sekolah, menyediakan peralatan tambahan untuk toilet, dan lain-lain. Tentunyaaa ini semua juga harus dapat dukungan dari pihak sekolah, sebagaimana OSIS yang bertanggungjawab harus bisa mendapatkan dukungan dari pihak sekolah.

Sembilan siswa SMP N 11 Bandung tadi sudah memberikan contoh yang baik kerjasama antara siswa-siswi dengan pihak sekolah (Kepala Sekolah) dan LSM. Mereka bekerja sama hanya untuk mencapai suatu hal yang relatif kecil, “Kebersihan Toilet”, yang secara tidak langsung membuktikan bahwa sekolah tersebut hebat.

Daftar Referensi:

1. Suwarna, Budi (2012), “Belajar Jujur dari Toilet”, Kompas, 27 Maret, 13.

2. Suwarna, Budi dan Febriane, Sarie (2012), “Wangi di Depan, Jorok di Belakang”, Kompas, 27 Maret, 1.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s