Senjata Kuliah: The Journal of Lectures and The Summary of College Books

Bahasa Inggris biar keren aja sih .. kalo di-Indonesiain sih Catetan Dosen dan Rangkuman Buku -____-”

Kuliah: Dosen Penting

Apa bedanya kuliah dengan SMA?

“Kalo SMA guru kalo kuliah dosen.” — semua orang

Semua yang guru (maupun dosen) ajarkan pada kita itu penting — anggap saja penting, sepenting uang semesteran yang kita bayar tiap bulan dan uang pangkal yang kita bayar awal masuk kuliah, serta sepenting usaha kita untuk masuk kuliah dengan rangkaian ujian dan persiapan ujiannya — cukup berharga.  Lalu bagaimana cara kita menghargai sesuatu yang berharga seperti itu? Tentu bukan dengan cara melupakan sesaat setelah kita menerimanya.

Ajaran dosen (dan guru) saya kategorikan dua: pelajaran dan non-pelajaran. Pelajaran saya definisikan sebagai materi mata kuliah yang (harus) disampaikan, sedangkan yang non-pelajaran ya yang selain itu dan biasanya ilmu tentang kehidupan (cieilah), keduanya penting, meskipun untuk yang disebutkan terakhir kita harus lebih selektif dalam menerimanya, hehe.

Penyampaian

Bagaimana sang pengajar menyampaikan hal yang ingin ia ajarkan  kadang menjadi masalah, meskipun apa yang akan ia ajarkan sudah tidak kita anggap sebagai masalah (par. 1 kal.1). Sebagian ngaco, sebagian baik, sebagian tidak menyampaikan sama-sekali. Kita dapat nilai sendiri baik-buruknya, hal ini berpengaruh terhadap bagaimana kita nangkep-nya nanti. Inilah tantangannya, usaha kita yang sekarang untuk mendapatkan hal yang berharga itu.

Tulisan dan Lisan

Media penyampaian bisa berupa apa aja, suara, rekaman, presentasi komputer, animasi, alat musik .. banyak, tapi mari kita ambil dan kategorikan 2 saja, tulisan dan lisan. Masing-masing dari mereka mempunyai ciri khasnya masing-masing. Dari ciri khas mereka, mari kita nilai satu, berdasarkan kemudahannya diingat*:

tulisan: (relatif)** mudah diingat. alasan: bisa dibaca/(lebih mudah) diulang lagi.

lisan : (relatif) susah diingat. alasan: tidak bisa diulang tanpa alat bantu.

* Kemudahan diingat, tentu faktor-faktornya berbeda dari masing-masing pribadi, tapi dengan random saya kaitkan dengan “pengulangan”, hipotesis.

 **karena semua bersifat relatif mari kita coret relatif dari persamaan, demi kebaikan bersama 🙂

Dengan mengetahui/mengidentifikasi ciri khas dari 2 media tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana cara menyikapinya, dan tentu tiap orang berbeda.

TULIS!

Guru-guru saya dulu, saya tidak tahu siapa, dan banyak dari mereka yang mengajarkan murid-muridnya (termasuk saya) agar suka menulis, kita semua ditanamkan nilai “suka menulis”. Lalu sekarang di kuliah / universitas, guru, dosen, senior, dan institusi (dalam hal ini universitas)  juga menekankan pentingnya menulis, jelas, apalagi kita sebagai mahasiswa yang bersenjata utama tulisan. Sepenting itukah tulisan? Lebih tepatnya budaya baca-tulis. Kata dosen MPKT sementara saya, negara dengan budaya baca-tulis lebih mudah untuk maju dibandingkan yang tidak, seperti Indonesia dengan budaya nonton-dengarnya.

Balik kepermasalahan tadi, untuk media lisan, kita harus sikapi dengan mencatat apa yang pengajar sampaikan melalui lisan, agar berubah menjadi tulisan, karena tulisan lebih mudah diingat (dengan alasan diatas). Sedangkan untuk tulisan, bagaimana cara kita mengingat tulisan yang tidak kita tulis? Semua orang menyikapi hal tersebut dengan berusaha mengerti tulisan tersebut, beberapa orang dibantu dengan merangkum, diskusi, mengerjakan soal, menjelaskannya pada orang lain, dan banyak hal lainnya, mungkin beberapa studi tentang memori otak dapat mendukung hal ini.

Saya?

Punya 2 senjata, buku jurnal, catetan untuk “ceramah” dosen, dan buku rangkuman untuk tulisan dosen/pengajar lain agar lebih mudah diingat. Karena diri saya yang cukup inkonsisten, untuk buku rangkuman masih masa percobaan apakah sikap tersebut efektif apa tidak? hehehe, sedangkan untuk “ceramah” dosen akan saya jurnal terus, berharga loh (salah satunya karena susah didapat). Untuk catetan/jurnal ceramah dosen saya udah merasakan manfaatnya (duh kaya MLM..). Enak loh bisa mengingat ulang perkataan dosen yang telah kita catet, berasa flashback, kurang lebih seperti buku harian lah (meskipun saya gak punya -_-) , apalagi jika pelajaran beserta dosennya adalah orang hebat dan kita sukai.

Komplain tentang dosen kalian? Atau punya metode agar lebih mudah mengingat pelajaran yang diberikan dosen/guru? Kritik saran artikel ini? Komentar aja dibawaaah~

Iklan

Satu pemikiran pada “Senjata Kuliah: The Journal of Lectures and The Summary of College Books

  1. Orang rajin nyatet semua yang ditulis di papan tulis, orang pintar nyatet punya temen, orang cerdik fotokopi catetan temen, dan orang cerdas nyatet yang penting-penting aja. Pilih mana, kerja keras atau kerja cerdas?

    Haha ga nyambung sih sebenernya, tapi omong-omong gua ga gitu suka nyatet loh, orang udah ada di buku teks yang tebelnya ratusan halaman gitu, buat apa coba dicatet lagi, buang-buang tinta, kertas, waktu, dan tenaga.

    Tapi ya itu, kalo ga nyatet pusing waktu ada kuis soalnya kalo kuis biasanya boleh buka buku dan ujung-ujungnya gua bingung karena ga pernah nyatet. Alhasil indeks gua C untuk salah satu mata kuliah inti di TPB ini hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s