“Diturunin” Angkot

Jika kalian ingin melihat apakah pemerintah masih “memerintah” rakyatnya atau sudah “melayani” rakyatnya, coba lihat pelayanan publiknya: transportasi umum, salah satunya.

Alkisah saya pulang dari Universitas Indonesia, seperti biasa menuju Terminal Depok untuk kemudian naik angkot (angkutan umum) 110 jurusan Cinere. Belum sampai Cinere, sang supir angkot memutuskan untuk berhenti melakukan pekerjaannya, menurunkan penumpang dengan berbagai macam alasan seperti: macet, “jam malam”, mobil mau dipakai “pemilik”, supir ada acara, dan lain-lain.

Tujuan

Tujuan transportasi umum adalah untuk melayani kepentingan transportasi masyarakat banyak, definisi saya loh, untuk membenarkan argumen saya berikutnya.

Saya bagian dari masyarakat, kepentingan saya untuk pulang tidak terlayani.

Egois?

Terdengar egois ya? hehehe.. Pemerintah sebagai “pelayan”, egois tidak? Kalau kita definisikan lagi “pelayan”, “melayani” sebagai “pemenuh” hak kita, dan jika kita sudah memenuhi kewajiban kita sebagai masyarakat (bayar angkutan umum, bayar pajak, dst), saya rasa tidak egois.

***

Tentu sekarang saya hanya ngomongin pemerintah melalui transportasi umum-nya. Saya juga tidak menyalahkan pemerintah (bohong..), saya cuma ngambek..

Balik dari ambekan saya, masuk ke-dalam angkot.. Sang supir tidak “melayani” saya hingga tujuan, ia “memerintah” saya untuk turun angkot dan naik angkot lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s