Kebun (Manusia) Ragunan

Wikipedia. (Foto: Gunawan Kartapranata, 2011)

Setelah bertahun-tahun hidup di Jakarta Selatan, bertahun-tahun bersekolah di Jalan Margasatwa, baru kali ini saya masuk ke Kebun Binatang Ragunan (KBR), bukan GOR-nya. Menarik bisa melihat hewan-hewan yang tidak biasa dilihat langsung: ada Pelikan, Jalak Bali, Nuri Merah Punggung Kuning(?), Badak, Beruang Madu, Orang-utan, dan lainnya. Selain hewan, disana juga ada banyak manusia dengan berbagai macam aktifitasnya mengisi hari libur. Waah.

Tetapi daripada terhibur dengan tingkah laku hewan dan bersenang-senang, lebih asyik kalau kita mengamati perilaku manusia yang ada disana.

Disiplin Buruk

Jujur, saya kecewa dengan disiplin kebanyakan orang di Kebun Binatang Ragunan (KBR). Kebanyakan orang-orang di KBR sana tidak disiplin, mereka tidak sabaran pada saat antre, ”menaruh” sampah tidak pada tempatnya , memberi makan hewan, dan merokok.

Begini awalnya, pada saat mau membeli tiket KBR, pada saat saya sudah persis di depan loket, ada orang yang nyerobot ke samping saya. Saya yang dilayanin duluan sih, tapi saya merasa tidak nyaman.

Setelah masuk, saya melihat banyak orang menggelar tikar di camping ground dan juga trotoar, melakukan kegiatan mereka: makan, minum, beristirahat, ngobrol, dan sebagainya. Setelah mereka selesai, mereka mengambil tikar mereka dan pergi. Ada yang terlupakan? Sampah.

“Dalam rangka gerakan Taman Margasatwa Ragunan bersih, mari ….”, terdengar himbauan seperti itu di pengeras suara, namun himbauan tersebut seolah tidak didengar.

Kemudian pada saat melihat hewan-hewan, ada gerakan anggun pelikan, ada godaan “lucu” beruang madu yang berdiri, pose gagah orang utan, yang diterjemahkan oleh pengunjung sebagai permintaan  lemparan Ciki, Citos, Serena, Pilus Garuda, dan snack lainnya. Tertulis larangan untuk memberi makan hewan di tiap kandang, yang mungkin dibaca. Ada yang ketinggalan? Lagi-lagi sampah.

Selanjutnya, lagi asik-asik dihibur oleh tingkah-laku hewan, tercium bau asap dari sebelah. Warna asap biru, putih, hitam yang kadang-kadang asapnya berat hingga turun kebawah dan juga yang ringan sampai melayang menampar muka pengunjung lainnya—termasuk anak-anak kecil. Bukannya ada larangan merokok di tempat umum ya?

Perwakilan Masyarakat

Ternyata sebagian orang-orang di KBR ini mewakili masyarakat Jakarta (dan sekitar) pada umumnya. Liat saja sikap tidak sabaran pada saat antri mewakili ketidaksabaran pada saat mengendarai kendaraan bermotor, antrian sembako sampai mengorbankan jiwa, angka kecelakaan relatif tinggi, dan hal lainnya. Lihat juga ketidak-disiplinan membuang sampah menyebabkan sungai-sungai di Jakarta mudah meluap dan banjir, pedagang berjualan di trotoar, angkot bisa berhenti dimana saja, dan seterusnya.

Apa sih yang salah? Atau kurang?

Pendidikan dan disiplin. Pendidikan agar masyarakat mengerti,  apa yang menyebabkan banjir, mana yang sehat dan mana yang tidak, kenapa hewan tidak boleh diberi makan pengunjung,  apa akibat dari tindakan mereka pada orang lain, dan seterus-terusnya. Setelah mereka mengerti, disiplin–bagaimana mereka mengatur diri mereka, membatasi hak mereka demi kepentingan umum.

Ada lintasan solusi dikepala saya, bagaimana kalau Ragunan, dan tempat umum lainnya dijadikan “tempat cuci” masyarakat? Maksudnya, tempat umum digunakan untuk memberikan pendidikan dan melatih kedisiplinan masyarakat? Saya yakin, perlahan-lahan—tergantung banyaknya tempat umum (yang mengadakan hal ini) serta banyaknya jumlah penduduk—masyarakat bisa menjadi “bersih”. Paling tidak kita “bersihkan” anak-anak kecil yang ada di sana, deh.

KBR sudah melakukan solusi diatas dengan himbauan di pengeras suara dan larangan tertulis, tapi masih tidak cukup, harus ada bentuk pendidikan* lain yang lebih mudah diterima (atau dipaksakan ke) masyarakat.

Diri Sendiri

Setelah puas mengomentari  orang lain, kini saatnya mengomentari diri sendiri.

“Itu lo ngeliatin semua itu diem aja, Nan? Nggak lo tegur?”

Hmm..  mungkin ini kutipan yang tepat:

“Dunia hancur bukan karena orang jahat, tapi karena orang baik yang diam saja”, saya  liat di internet.

paling tidak seperti itu kutipannya…….  bener juga sih.

*Pendidikan disini bisa dimaksud: pengertian, sosialisasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s