(Borosnya) Cinta Lingkungan

Semua orang boleh mengaku cinta lingkungan. Tapi coba cek dulu: bagaimana cara mereka yang mengaku mencintai lingkungan, well… mencintai lingkungan?

Tentunya kita harus mempertimbangkan efisiensi dari seluruh kegiatan cinta lingkungan kita.

Efisiensi adalah kunci mencintai lingkungan, dimana kita bisa memberikan yang terbaik pada lingkungan dengan usaha (baca: waktu, energi, materi) sekecil-kecilnya. Jangan sampai terjadi, atau paling tidak tekan sesedikit mungkin musuh efisiensi—pemborosan.

***

Penulis masuk ke lingkungan kampus penulis di Universitas Indonesia (UI), dimana terdapat beberapa kegiatan bertemakan go green yang bertujuan mengajak masyarakat terutama anak muda di kota Depok agar peduli lingkungan.

Dari 2 kegiatan yang sudah penulis ikuti sebagai panitia penyelenggara, ada sebuah kesamaan yang mengganggu, yaitu sedikitnya partisipan kegiatan. Hal ini bisa dilihat, terwakili pada saat kegiatan utama berlangsung, dimana penonton masih didominasi oleh panitia penyelenggara. Target partisipan yang diharapkan datang—masyarakat umum serta anak muda di kota Depok terlihat acuh terhadap kegiatan-kegiatan seperti ini. Tujuan kegiatan tidak tercapai dengan maksimal.

Dampaknya, usaha panitia penyelenggara tidak sebanding dengan pencapaiannya itu. Bayangkan, panitia penyelenggara harus mengeluarkan materi yang tidak sedikit–uang untuk berbagai keperluan: kas kepanitiaan, mencetak kaos, transport, dan uang-uang lainnya yang belum tentu digantikan. Selain materi, energi dan waktu yang dikeluarkan mereka juga tidak kalah banyak—mulai dari menghadiri rapat, menginap di lokasi kegiatan sebagai persiapan, mengangkat-angkat dekorasi,  dan hal-hal melelahkan lainnya yang bisa diperparah dengan kurangnya sumber daya manusia.

Itu baru yang dikeluarkan oleh panitia sebagai sumber daya manusianya, belum kebutuhan dari kegiatan itu sendiri mulai dari, jika ada, panggung dan sound system untuk menarik penonton yang tentunya menggunakan tidak sedikit daya listrik, serta segala macam dekorasi yang berkemungkinan besar menjadi sampah.

Semua pengorbanan tersebut yang jika diuangkan, bisa mencapai puluhan juta rupiah, hanya untuk sebuah kegiatan yang belum jelas hasilnya.

Evaluasi

Lalu apakah kegiatan/kepanitiaan semacam itu salah? Tidak, tapi perlu diadakan evaluasi secara sungguh-sungguh.

Evaluasi (peninjauan kembali), kegiatan-kegiatan semacam ini sangat diperlukan sebagai bahan pembelajaran, jangan hanya sekedar dijadikan formalitas. Tinjau kembali, apakah tujuan dari kegiatan ini sudah tercapai apa belum, kalau belum mengapa, dan kalau sudah, efektif apa tidak? Apakah kegiatan seperti ini perlu diadakan lagi? Adakah cara lain yang lebih efektif untuk mencapai tujuan kegiatan?

Buat model evaluasi secara ilmiah yang bisa dihitung, sehingga hasil evaluasi tersebut menjadi jelas—gunakan statistik.

Sebagai contoh, untuk sebuah kegiatan seperti kasus di-atas yang bertujuan untuk:

“meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya anak muda di Kota Depok terhadap lingkungan”,

panitia bisa melakukan survey sebelum dan sesudah kegiatan ini kepada  target kegiatan—siswa-siswi SMA di Depok, untuk mengetahui seberapa besar mereka mencintai lingkungan, dan melihat apakah ada peningkatan apa tidak setelah kegiatan selesai.

Semua hal tersebut dilakukan agar pencapaian atau hasil dari sebuah kegiatan menjadi jelas. Untuk masalah teknis, kalian yang lulus mata kuliah Metode Statistik pasti lebih mengerti lah.. hehe..

Mengenai hal ini, penulis merekomendasikan sebuah artikel tentang sebuah program bantuan dari World Bank untuk menyediakan buku gratis bagi sekolah-sekolah di negara-negara sub-sahara Afrika.

The Hyper-Efficient, Highly Scientific Scheme to Help the World’s Poor oleh Jessica Benko

Mulai dari yang kecil

Banyak hal yang semestinya dilakukan di lingkup yang kecil, tak terkecuali mencintai lingkungan, karena lebih mudah untuk dilakukan dan terkendali. Hal ini bisa dimulai dari lingkup kelompok sosial dan lingkup ruang yang kecil.

Kembali pada kasus di atas, tentang kegiatan yang bertujuan untuk mengajak masyarakat umum untuk cinta lingkungan. Sebelum kegiatan tersebut dilakukan, tanya dulu diri sendiri, keluarga, teman-teman kalian apakah mereka sudah mencintai lingkungan apa belum, sebelum mengajak masyarakat umum.

Untuk lingkup ruang yang kecil, penulis tidak memulai dari rumah, RT, RW, dan seterusnya, tetapi langsung ke ruang di lingkungan kampus dimana mahasiswa bebas bereksperimen seperti di departemen, fakultas, universitas, kota, dan seterusnya. Tentu kegiatan cinta lingkungan dengan skala fakultas lebih “murah” dibandingkan dengan kegiatan skala besar seperti di kota, dan jika didalam kegiatan tersebut  terjadi pemborosan atau kegagalan, maka kerugian (misal: defisit anggaran) yang terjadi lebih mudah dikendalikan.

Rasanya aneh bukan, mengajak masyarakat luas untuk cinta lingkungan dengan melupakan masyarakat di, serta lingkungan (fakultas) sendiri.

***

Sebenarnya apa yang telah penulis paparkan diatas ini berlaku secara umum untuk kegiatan-kegiatan kampus lainnya yang diselenggarakan oleh mahasiswa.  Untuk setiap kegiatan perlu ditinjau kembali apakah kegiatan tersebut sungguh-sungguh bermanfaat apa tidak.

Apalagi ketika kegiatan tersebut masuk ke ranah lingkungan, dimana bumi yang diperjuangkan.  Apakah pemborosan, terutama energi,  menunjukan kecintaan kita pada lingkungan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s